akhirnya ke sekretariat IDI juga. setelah berbulan-bulan bolak-balik antara niat-ga niat, semangat yang naik turun antara pengen buka praktek pribadi vs pikir-pikir (baca: males ribet), paranoid sama birokrasi yang (sering) berbelit-belit, toh akhirnya daftar juga. gampang ternyata. tinggal isi formulir, serahin ijazah legalisir, pas foto warna sama foto kopi ktp, kelar deh. tinggal nunggu keluar nomer anggota aja 6 bulan kemudian. surat rekomendasi buat bikin surat ijin praktek seminggu juga jadi, kalo mau langsung ngurus. mudah, kan. gak percaya?
wajar si kalo gak percaya. soalnya saya kan belum menyebutkan tentang biaya pendaftaran, iuran anggota, sampai beli map! hehe.. dua ratus sembilan puluh lima ribu rupiah yang harus dikeluarkan untuk terdaftar sebagai anggota IDI selama 2 tahun. tidak banyak, memang. tapi siang tadi saya terpaksa menelan rasa malu di depan petugas yang setelah tahu saya ‘cuma’ seorang dokter baru tanpa pekerjaan yang ‘jelas’, lalu kelihatan tidak antusias lagi. saya terpaksa bilang padanya, “emmhh bu, sepertinya uang tunai saya tidak cukup..sebentar ya saya ke ATM dulu..”. si ibu yang tadinya lebih sibuk beramah-tamah di telepon mengatur penginapan dokter-entah-siapa di menara peninsula (jakarta, ya?) daripada melayani pertanyaan-pertanyaan saya, jadi makin acuh saja dan bahkan tidak lagi melihat saya ketika bicara.
bukan masalah besar. saya pernah menghadapi yang lebih buruk. *mantan ko as gitu loh;p, hehe*
dan ternyata keadaan jadi makin lucu saja. ke ATM si cuma alesan, sebenarnya saya cuma pergi ke toko sebelah tempat suami saya sedang memilih-milih raket dan pernak-pernik badminton untuk minta uang. setelah ‘mengadu’ secukupnya, saya segera kembali ke sekretariat IDI, tidak sabar ingin menuntaskan urusan ini lalu menghibur diri dengan kencan makan siang berdua, hehehee. persis ketika saya baru saja memasukkan kembalian lima ribuan ke kantong, masuklah seorang laki-laki umur 50-an. tiba-tiba, “bu, minta makan..dompet saya kosong..” pintanya dengan memelas sambil menunjukkan dompetnya yang cuma berisi kertas-kertas lusuh. heh??
dari kunjungan sebelumnya (tapi petugas IDI-nya sedang tidak diĀ tempat sehingga saya tidak jadi mengurus keanggotaan IDI waktu itu), sebenarnya saya tahu bapak ini. dia sepertinya pasien skizofren yang diabaikan keluarganya dan memang biasa berkeliaran di sekitar situ. waktu itu dia juga menyapa saya, pake ngasi hormat segala pula, hehe. saya pikir, masi ada lima ribu ini. kalo cuma makan siang sederhana aja cukuplah.. setelah tawar-menawar karena si bapak keukeuh minta duit sedangkan saya maunya memberi makanan langsung, akhirnya kami sepakat pergi ke warung makan di depan sekretariat. skenarionya, dia boleh pilih makanannya lalu saya yang membayar.
sesampainya di warung, “minta nasi pake ayam, tahu, tempe, sama sayur..”, kata si bapak sambil melenggang mengambil teh botol di kulkas. glek, saya cuma bengong bercampur geli karena tidak menyangka episode yang sama di sekretariat IDI sepertinya akan berulang di warung ini. lima ribu rupiah pasti tidak cukup untuk membayar pesanan si bapak. si pemilik warung nampak maklum, sambil tersenyum-senyum, “biasa memang dia main-main di sini tiap hari bu..”. saya cuma tertawa gugup sambil menanyakan harga totalnya. “lima belas ribu, bu..” lanjut kasirnya. rogoh kantong rok kiri-kanan, kantong jaket luar-dalam, alhamdulillah ada receh yang tertinggal. lima ribu, enam ribu..semuanya ada empat belas ribu, ah! saya sudah siap-siap pasang senyum manis lagi waktu si pemilik warung bilang, “sudah mi bu..ndak apa-apa ji..”. huff, save..rejeki orang sedekah ini mah, hehe..
saya masih tersenyum-senyum waktu keluar warung mendengar si bapak bilang “terima kasih ya bundaaa..”. ‘dinginnya’ sikap si ibu di sekretariat IDI, panasnya udara makassar, sama sekali tidak saya rasakan. karena siang itu anging mammiri berhembus lembuuut sekali..nyamanna..^^

